Tampilkan postingan dengan label cakram belakang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cakram belakang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

cakram belakang

Rem Cakram Belakang, Sekedar Trend?

Rem belakang menggunakan cakram? wuih keren bro!!
cakram vs tromol
Tapi masih perlukah rem cakram belakang? Sekedar trend atau memfokuskan fungsionalitas? Kang Taufik sudah pernah membahas mengenai rem cakram dengan tromol, baca disini.
Sekarang kita baca artikel yang disuguhkan di gilamotor, disebutkan disana:
Untuk penggunaan yang lama, misal jalan menurun yang curam tentu rem cakram durabilitasnya lebih baik. Sementara itu, rem teromol pun tak berarti kalah total. Dengan permukaan gesek yang lebih banyak, cengkeramannya pun cukup baik, sayang lekas panas dan pembuangan panasnya lebih minim.
Tetapi, coba juga di jalan basah, dengan kondisi hujan. Ketika cakram terkena air, daya cengkeram kampas remnya tidak sesakti kala kering, sementara pada rem teromol dengan keuntungan sistem yang tertutup, air tidak mudah membasahi kedua permukaan, baik kampas rem maupun teromolnya.
Pada saat uji coba, pengereman dari kecepatan 50 km/jam hingga berhenti kala hujan, jarak pengereman sekitar 25 m, terasa rem depan yang menggunakan cakram sedikit licin, alias kurang cengkeramannya, sementara di belakang rem teromol tak berubah, hanya permukaan jalan lebih licin, membuat traksi ban berkurang. Ketika jalan kering, jarak pengereman lebih dekat, 20 m saja, kedua rem bekerja baik.
Namun saat mencoba di jalan menurun yang panjang, rem cakram menunjukkan kesaktiannya dengan mampu menahan laju tunggangan dengan baik, bahkan ketika hujan sekali pun. Meski awalnya agak ngeloyor, ketika rem digunakan terus-menerus, tampaknya cengkeraman kampas remnya semakin baik.
Kesimpulannya, rem cakram memang lebih unggul soal pengurangan laju tunggangan, meski kala basah, sedikit berkurang kemampuannya.
Kini coba kita perhatikan gambar di bawah:
New Mega Pro
nmp cakram vs tromol
Sementara pada New Jupiter MX ada beberapa perbedaan spesifikasi yaitu Manual Clutch dan Auto Clutch
njmx mt vs at
Suzuki Axelo series
axelo tromol vs axelo r cakram
Bisa dilihat di sana, bahwa ketiga motor tersebut (atau mungkin yang lainpun ada cuma aku memperkecil area pembahasan saja mengambil 3 contoh motor ini) terlebih Honda New Mega Pro memiliki Daya dan Torsi yang sama antara versi CW (velg CW + cakram belakang) dengan versi SW (Velg Jari + Tromol), kenapa harus dibedakan rem-nya? apakah disini artinya secara fungsi dan daya cengkram jenis rem belakang cakram dengan tromol sama? atau hal ini hanya sekedar trend semata?
Jika pengaplikasian rem cakram belakang karena tuntutan fungsionalitas, aku pilih yang versi RDB (rear disc break), secara tampilan lebih oke hehe…
Btw, aku salut sama Honda New Blade, semuanya menggunakan rem cakram belakang, tidak membedakan, pantas saja TVC-nya di sirkuit, mungkin secara fungsional dengan “kecepatan segitu (120km/jam euy! nyatanya???)” penggunaan rem cakram belakang sangat diperlukan.

Rawat Rem Disc Brake supaya Tetap Pakem

Rawat Rem Disc Brake supaya Tetap Pakem

Rawat Rem Disc Brake supaya Tetap Pakem
Mobil-mobil baru sekarang ini boleh dibilang sudah menggunakan rem cakram, terutama bagian depan. Ada pula yang keempat roda sudah dilengkapi sistem itu.

Perangkat utamanya terdiri dari piringan cakram dan kampas rem (brake pad) yang digerakkan oleh kaliper. Sebagai 'perpanjangan tangan' sistem hidraulis rem, kaliper memiliki ujung pada piston penekan. Desainnya (bentuk dan dimensi) utamanya menyesuaikan ruang sesuai mounting rem mobil tertentu. Jadi, jika kaliper tidak ada istilah universal alias bisa dipakai mobil jenis apa saja.

Untuk bikin pakem rem, biasanya karena mesin sudah dimodifikasi dengan melebarkan diameter cakram dan luas permukaan kampas rem. Dengan memperbesar kampas rem, sudah pasti hal itu membutuhkan jumlah piston yang memadai.

Nah, piston pada kaliper suka disebut pot. Di pasaran tersedia 5 jenis pot, dimulai dari tunggal (single pot), 2 pot, 4 pot, 6 pot, dan 8 pot. Adapun yang single dan double pot adanya cuma versi OEM.

Terpenting lagi, bila rem yang sudah memakai sistem disc brake tidak dirawat, nyawa taruhannya. Nih, langkah perawatannya dan bisa dikerjakan sendiri.

1.Disc cleaner
Setiap menempuh 10.000 km bersihkan debu-debu dengan disc cleaner berupa cairan dengan cara disemprot. Debu dan kotoran akan rontok. Untuk hasil maksimal, setelah disemprot, lap dengan kain.

2. Ampelas dan bubut
Biasanya bila sudah menempuh 100.000 km, selain sil-sil rem diganti, kampas dan cakram diampelas agar permukaan tetap rata. Bisa juga jarak tempuh di bawah itu bila rem sudah menimbulkan bunyi decit lantaran kampas sudah tipis, berdebu atau permukaan cakram tidak rata.

Jika cakram yang tidak rata, diatasinya dengan dibutut. Tapi ingat batas maksimumnya, bila sudah terlalu tipis atau retak, cakram sebaiknya diganti.

3. Minyak rem
Isi dan ganti setiap menempuh 20.000 km. Minyak rem yang terlalu lama, kandungan airnya makin tinggi, apalagi kualitas minyak rem kurang bagus. Hasilnya, titik didih kian rendah mengakibatkan performa rem tidak bagus.

4. Kualitas minyak rem
Pada kemasan minyak rem ada tulisan DOT (Department of Tranportation) dibarengi dengan angka, itu menunjukkan tingkat kekentalan dan titik didihnya. Semisal DOT 3, 4, dan 5, sama dengan perbedaan kaliper rem 4 sampai 8 pot. Semakin tinggi spek pot, pemakaian minyak remnya menggunakan DOT yang tinggi.

Untuk rem standar bisa menggunakan DOT 3 atau 4. Lain jika sistem penghenti laju sudah dimodifikasi untuk mengimbangi tenaga mesin yang besar, pakai DOT5 karena bahannya menggunakan silikon. Selain titik didih tinggi, tidak mudah menguap.